idarzh-CNenja

Ribuan Kilo Jarak  Palembang-Tangerang, Bersepeda  Okta dan Rizal  ingin Bertemu Ibu

saat dijenguk wali kota tangerang penggowes sepeda palembang-tangerang, tidur kelelahan setelah menempuh ratusan kilometer
Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah menjenguk bocah penggowes sepeda Palembang-Tangerang, FOTO: ACI/deladeni

 

deLadeni.com, Larangan - Kisah mengayuh sepeda ribuan kilometer ditempuh Muhammad Okta Firmansyah,15 tahun dan Muhammad Afrizal (14) demi bertemu ibu. Demikian kisah kakak-beradik menaiki sepeda dari rumah nenek mereka di Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan ke Kota Tangerang, Banten yang kemudian menggugah empati Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah.

Arief pun mendatangi sebuah rumah kontrakan di Gang H Jaini, Kreo Kecamatan Larangan. Arief datang akhir pekan lalu didampingi Camat Larangan Damiati menemui orangtua Okta dan Rizal, Muhammad Nasir dan Sulastri.

Kepada orangtua Okta dan Rizal, Arief berpesan agar menjaga anak-anaknya dengan penuh perhatian. Melihat kondisi perekonomian keluarga  Muhammad Nasir dan Sulastri, Arief menyatakan melalui Program Tangerang Cerdas, Pemerintah Kota Tangerang akan membantu biaya pendidikan Okta dan adik-adiknya.

"Jangan sampai putus sekolah, masa depan anak-anak Ibu dan Bapak masih panjang. Sayangi anak-anak ya, mereka juga sayang kalian," ujar Arief.

Sayangnya Arief tak bisa bercakap-cakap dengan kedua remaja tanggung itu, saat berkunjung ke rumahnya keduanya sedang tidur pulas. Walhasil Arief hanya bisa memandang kedua anak itu dengan rasa iba dan kagum atas tekad bulat demi sebuah tujuan menemui orangtua.

 

Bagaimana perjalanan Okta dan Rizal sampai Indralaya?

Dari cerita Okta kepada orangtuanya, awalnya Rizal mengungkapkan kepada ibunya kerinduan kepada neneknya. Namun karena masih memiliki anak kecil berumur dua tahun, maka Sulastri tak bisa memenuhi keinginan anaknya itu. Ditambah perekonomian yang pas-pasan tak bisa menolong keadaan.

Namun  kerinduan Rizal tak bisa dibendung, ia bercerita kepada kakaknya, Okta. Okta yang merasa tahu jalan ke Sumatera karena pernah diajak ayahnya bersedia mengantar adiknya. Bertiga dengan salah satu kerabat dekat bernama Aslam, 11 tahun ketiganya lalu berangkat dengan mencegat truk menuju Sumatera dengan cara BM (-istilah mencegat truk untuk menumpang). Itu dilakukan sebulan sebelum puasa Ramadan 1438 H.

Singkat cerita mereka sampai di rumah nenek di Indralaya. Bahkan telepon genggam ibu, mereka bawa untuk komunikasi. Semula orangtua khawatir, namun begitu tahu anak-anaknya selamat berada di rumah neneknya Sulastri lega bercampur kaget bukan kepalang.

Lebaran, anak-anak ini berpamitan kepada neneknya untuk pulang kembali ke Tangerang. Nenek Okta dan Rizal juga orang tak mampu, hanya bisa membekali uang tunai Rp 150 ribu dan dua sepeda kayuh butut. Berbekal restu nenek, ketiga bocah itu bersepeda, mereka mulai petualangan dengan mengayuh sepeda ribuan kilometer.

Bila hari memasuki malam, ketiganya beristirahat di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pagi hari, begitu fajar menyingsing menggowes sepeda butut dilanjutkan. Tak ada bekal makanan, hanya buntalan kantong plastik putih berisi pakaian ditalikan di atas stang sepeda.

Tak kurang akal, mereka juga sempat menumpang bus dengan menawar tarif . Tak sedikit sopir bus menolak mengangkut ketiganya karena ongkos minim. Beruntung ada bus yang kemudian mengangkut Okta, Rizal dan Aslam itu berikut sepeda butut mereka. Tibalah mereka di Terminal Rajabasa. Dari sana kemudian bertiga menggowes sepeda ke Begadang Lampung Selatan untuk membeli tiket kapal.

Wajah penat, baju kumal karena tak pernah ganti, peluh bercucuran begitulah kondisi tiga anak ini. Di tangan mereka ada sisa uang Rp 20 ribu itu bekal membeli tiket kapal penyeberangan.

Salah satu diantaranya kemudian menemui petugas ASDP Indonesia Ferry di buffer zone penjualan tiket di Begadang 4. Jatuh rasa iba ketiga bocah itu ditolong Rizki Dwianda, Vice President Services and Assurance ASDP Indonesia Ferry. Selain diajak makan, ketiganya diantar dengan mobil ke Bakauheni untuk diseberangkan ke Merak dengan Kapal Jatra 2.

Ketiga bocah itupun ditempatkan di VIP room anjungan kapal. Ketiganya bersukacita, bahkan kesempatan itu digunakan Rizal dan Aslam untuk berkeliling kapal. Tak jarang ada penumpang yang kemudian memberi uang ala kadar dan makanan. Ketiganya tidak kelaparan dan sampai dengan sehat menyeberang laut dari Bakauheuni Lampung ke Merak, Cilegon Banten. Bertiga diantar petugas sampai di rumah orangtua. Pertemuan itu mengharukan.

 

Ternyata, Okta Enam Bersaudara Tak Ada yang Sekolah

Atas perintah Wali Kota Arief, Dinas Sosial Kota Tangerang menggali informasi tentang bagaimana kondisi sebenarnya keluarga Nasir. Dari data yang diperoleh mereka keluarga yang berekonomi pas-pasan.

Nasir pekerjaan sehari-hari hanya seorang sopir tembak (-cadangan) tak hanya truk juga angkutan kota. Sulastri saat ini sedang mengandung anak ketujuh. Yang mengenaskan, Okta, enam bersaudara tak mengenyam bangku pendidikan.

Berkaitan dengan pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Abduh Surahman kepada deLadeni, Senin, 3 Juli 2017 mengatakan akan menanggung biaya pendidikan anak-anak Nasir-Sulastri, tak hanya Okta dan Rizal.

"Pemkot akan membantu meneruskan pendidikan anak-anak, Okta, Rizal dan adik-adiknya untuk masuk sekolah kejar Paket A," kata Abduh.

Kenapa Kejar Paket A? Karena itu setara dengan pendidikan formal sekolah dasar. " Okta dan adik-adiknya belum pernah sekolah, hanya ada satu adik mereka usianya sekarang 10 tahun yang pernah sekolah sampai kelas dua SD,"ujar Abduh.

Kemudian dua adik Okta yang usianya 7 dan 8 tahun, tahun ajaran baru Juli 2017 ini akan dimasukkan sekolah di dekat rumah mereka.

"Anak yang usianya tujuh dan delapan tahun kami masukan kelas satu SD, yang besar kan sudah tidak patut (-fisik sudah besar) masuk sekolah formal kelas 1 SD, jadi melalui kejar paket," kata Abduh.

Tak hanya biaya pendidikan, kebutuhan sekolah dan keperluannya juga ditanggung Pemkot Tangerang. Ini bagian tugas pemerintah mencerdaskan anak bangsa.

 

 ALMAYRADINKA AURORA