idarzh-CNenja

Latihan Evakuasi Gempa, 450 Siswa Prince's Cre@tive School Berlindung di Pohon Bambu

Simulasi gempa di Prince's Cre@tive School jalan Benteng Jaya Kota Tangerang, FOTO: AURORA/deLadeni

 

deLadeni.com, Tangerang - Sebanyak 450 siswa playgrup,  TK, SD dan SMP  Prince's Cre@tive School di jalan Benteng Jaya Kota Tangerang mengikuti simulasi evakuasi  gempa dan kebakaran.

Menurut Manajer Sekolah Prince's Cre@tive School  Lisia Natalia, simulasi gempa ini dilakukan demi meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan bagi para siswa.

"Simulasi gempa itu sudah rutin dilakukan sejak tahun 2008, dilaksanakan dua kali dalam setahun,"kata Lisia, Rabu, 3 Oktober 2018.

Lisia mengatakan sebenarnya gedung sekolah Prince's Cre@tive oleh pendiri sekolah sudah dirancang tahan gempa. "Pak Udaya Halim sudah merancang bangunan ini tahan gempa sampai 8 skala richter. Tapi ini bentuk latihan agar kalau ada gempa, kebakaran dan situasi darurat lainnya  anak-anak sudah sadar dan cepat tanggap,"kata Lisia.

BACA JUGA : Gempa Lebak, Polda Banten Siapkan Posko Bencana

Ratusan siswa keluar ruangan kelas dengan tertib dan rapi. Dalam latihan itu, begitu sirine dibunyikan oleh Kepala Sekolah Dasar Rina Kusuma Wardhani, diiringi bunyi kentongan yang dipukul Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Cricensiana Sri Untari dan sebagain pemandu Kepala SMP Lisia Natalia yang menunjukkan kedua tangannya dengan kode ada gempa dan evakuasi dua arah, para  siswa playgrup dan TK keluar kelas di lantai dasar, adapun siswa SD turun melalui tangga dari lantai satu berikutnya siswa SD kelas 5 dan 6 serta semua siswa SMP turun  tangga dari lantai 2.

Terdengar suara dari Lisia dengan bahasa Inggris agar seluruh siswa  berjalan keluar tanpa suara, tidak berlari, tidak saling mendorong dan tidak berbalik arah.

"Tetap berjalan cepat tidak berbicara,  tidak mendorong temannya dan menuju bawah pohon bambu, berlindung di sana,   sampai situasi aman,"kata Lisia.

Kenapa pohon bambu untuk berlindung? Lisia menjelaskan bahwa  rumpun pohon bambu sangat kuat menahan bangunan roboh. "Di sekolah ini ditanam rumpun bambu di dalam dan di luar tembok. Ini sebagai tempat untuk berlindung kalau sewaktu-waktu ada bencana gempa,"kata Lisia.

Lisia mengatakan pelajaran mengenai bencana alam, gempa bumi berikut cara evakuasi sudah masuk dalam kurikulum SD kelas 6. " Tapi anak-anak sangat sadar dan sudah terbiasa dengan simulasi ini karena playgrup pun usia 3 dan 4 tahun sudah ikuti,"kata Lisia.

Simulasi gempa di Prince's Cre@tive School jalan Benteng Jaya Kota Tangerang, FOTO: AURORA/deLadeni

Lisia mengatakan selain pohon bambu sebenarnya siswa penanganan  pertama bisa berlindung di kolong meja,"tetapi ini situasional, artinya kalau guncangan kencang kan buat jalan bisa jatuh, sebaiknya berlindung dulu. Karena kami kedepankan langkah don't be panic, don't talk, don't run, don't push dan don't return,"kata Lisia.

BACA JUGA : Longsor di Terowongan Bandara, Dua Korban Tertimbun

Salah satu siswa kelas 9 SMP Evelyn Rosalina, 14 tahun mengatakan sudah terbiasa dengan simulasi ini. "Saya sudah ikut tak terhitung  simulasi di sekolah ini, sejak dari playgrup. Jadi sudah sangat hafal jalur evakuasi melalui tangga mana dan tahapannya seperti apa. Jadi pas ada gempa anak gunung Krakatau meletus, ada guncangan kami keluar kelas dengan tenang dan berjalan cepat menuju pohon bambu di lapangan,"kata Evelyn.

Dihubungi terpisah, budayawan Udaya Halim  yang tak lain pendiri Princ'e Cre@tive School menyatakan simulasi penanganan gempa itu sudah dimulai sejak tahun 2008. 

"Tradisi evakuasi gempa dan kebakaran  sendiri sudah saya mulai sejak tahun 2008 ketika saya mengganti nama Sekolah Prince's menjadi Prince Cre@tive School. Kemudian anak saya Udayacyntia Halim kerap berbagi pengalaman penanganan gempa,"kata Udaya.

Dia mengatakan penanganan gempa  yang diterapkan di  Prince's Cre@tive   School diantaranya  merupakan pengalaman putrinya Udayacyntia Halim yang tinggal di Jepang.

"Cyntia merupakan intrepreneur di Sendai, suaminya Philip guru  di sana selama lima tahun. Bahkan Philip pernah hilang dua hari saat tsunami menghantam Sendai, Jepang Utara,"kata Udaya.

Tsunami di Sendai Jepang Utara tahun 2011 membuat Cintya ikut terlibat untuk berbagi pengalamannya tentang seperti apa  evakuasi di Jepang . 

"Kami ingin sebarluaskan budaya keselamatan anak-anak di sekolah dari kepanikan dan kecelakaan yang tidak semestinya,"kata Udaya.

BACA JUGA : Bantu Korban Gempa Lombok, Garuda dan BRI Berangkatkan 23 Tenaga Medis

Udaya menyebutkan bahwa Indonesia  ada di ring of fire  yang sewaktu-waktu menyebabkan  gempa tektonik maupun vulkanik entah kapannya tapi pasti bakal terjadi.

"Kami mengantisipasi  sedini mungkin, dan seharusnya dilakukan  di sekolah sekolah, saya mengimbau ini dilakukan secara nasional,"kata Udaya yang juga pemilik Museum Benteng Heritage di Pasar Lama Tangerang.

 

AURORA