idarzh-CNenja

Bisnis E-Commerce Mulai Gerus Gerai Ritel Modern

Ilustrasi e-commerce. Foto: Google

 

deLadeni.com, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pihaknya melihat ada pertumbuhan bisnis e-commerce atau belanja online alias daring ( dalam jaringan) di Indonesia hingga tahun 2017. 

BACA JUGA : Ada Pergeseran Belanja Masyarakat Indonesia, Bappenas Sebut dari Hypermarket ke Minimarket

Meski tingkat pertumbuhannya belum terlalu tinggi, ada konsistensi yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ini pelan tapi pasti, dan ke depan akan mengancam keberadaan gerai-gerai ritel modern yang sudah ada sebelumnya.

"Meskipun online mungkin masih kecil secara absolut, tetapi growing, makin tumbuh dan ini banyak langsung head to head dengan industri ritel, karena barang yang dijual adalah yang biasa ada di industri ritel," kata Bambang melalui konferensi pers di kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Senin, 13 November 2017.

Bambang memaparkan data mengenai prospek bisnis e-commerce per Januari 2017 yang bersumber dari Idea. Data tersebut menampilkan bahwa jumlah mereka yang berbelanja secara online atau e-commerce dari 2016 hingga Januari 2017 sebesar 25 juta orang. Kemudian, penetrasi e-commerce terhadap total populasi di Indonesia mencapai 9 persen.

BACA JUGA : Maraknya Belanja Daring, Bappenas: Pengaruhi Pertumbuhan Impor

"Lalu total value-nya 5,6 miliar dolar AS, dan average revenue mencapai 228 dolar AS per orang," tutur Bambang.

Hal lain yang turut jadi perhatian adalah tingginya penggunaan uang elektronik atau e-money di tahun 2017. Jika kedua fakta itu disandingkan, menurut Bambang, dapat diindikasikan bahwa orang-orang mulai terbiasa dengan sistem e-commerce yang metode pembayarannya menggunakan uang elektronik.

"Betapa tingginya orang yang belanja online untuk pakaian, kosmetik, alat elektronik, bahkan untuk memesan travel, dan seterusnya," tutur Bambang.

Dia juga menyinggung sejumlah gerai ritel besar di Amerika Serikat yang tutup karena tidak bisa menahan industri digital yang menjalankan bisnis serupa. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan mengkaji lebih lanjut fenomena ini supaya pemerintah bisa mengambil kebijakan dalam rangka menyikapi perkembangan digital yang semakin cepat dari hari ke hari.

BACA JUGA : Efek Lebaran, Tingkat Konsumsi Rumah Tangga Melambat

 

KALVIN KHALID I ACI